Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Mentan Minta Petani Ikuti Kalender Tanam

Selasa, 09 Oktober 2012

Sumarni Plus, JAKARTA – Pemerintah terus berupaya mengejar target surplus beras 10 juta ton. Salah satunya dengan menyiapkan kalender musim tanam untuk masing-masing provinsi dan kabupaten serta kecamatan se-Indonesia.

’’Saat ini pemerintah telah memberikan panduan ke daerah secara maksimal. Diharapkan, petani yang hendak menanam padi dapat mengikuti kalender musim tanam yang telah disiapkan tersebut karena situasi dan kondisi iklim sudah dirangkum dalam peta kalendar tanam itu yang merupakan hasil koordinasi Kementan dengan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika),” kata Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA saat melakukan dialog dengan para Kepala Dinas Lingkup Kementerian Pertanian seluruh Indonesia dalam acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) Tahun 2012 pada hari Rabu (23/5/2012).

Dikatakan Mentan, persoalan perubahan iklim sangat penting karena berdampak terhadap perubahan pola tanam dan penurunan produksi beras, yang antara lain ditandai dengan munculnya pertumbuhan hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu kalender tanam dapat dijadikan sebagai pemandu penerapan pola tanam bagi petani. “Pergeseran awal musim akibat perubahan iklim yang tidak terkondisikan dengan baik akan mengancam pencapaian target surplus beras sebesar 10 juta ton,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan Mentan, selain menyiapkan kalender tanam, pemerintah juga telah memberikan benih- benih unggul yang memiliki potensi tinggi dan adaptif terhadap perubahan iklim termasuk tahan terhadap hama penyakit. “Kita upayakan penanganan perubahan iklim dengan menyediakan varietas unggul yaitu inpara dan inpari 13 yang tahan wereng,” jelasnya.

Upaya lain yang dilakukan pemerintah yaitu dengan terus melakukan pengawalan intensif on farm dengan menerapkan Lapangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL PTT), System of Rice Intensification(SRI), Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL PHT), dan Sekolah Lapang Iklim (SLI).

Pada kesempatan tersebut, Mentan juga menyatakan keprihatinannya pada beberapa kepala daerah yang masih kurang peduli dengan keberadaan lahan pangan berkelanjutanpadahal sudah ada UU No 41 tahun 2009 dan 4 PP sebagai pedoman teknis implementasinya.

Sumber Berita : Biro Umum dan Humas

Mentan Minta Pemda Sulut Terbitkan Perda Perlindungan Lahan

Sumarni Plus, MANADO – Untuk lebih meningkatkan peran Sulawesi Utara (Sulut) dalam memenuhi kebutuhan pangan dan menyumbang produksi nasional, Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono, MMA pada kesempatan tersebut mengingatkan kembali kepada setiap kabupaten/kota untuk secepatnya menerbitkan Perda dan menindaklanjuti UU No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dengan menetapkan rencana tata ruang atau tata wilayah.

“Penanaman padi di lahan pertanian harus dilakukan secara maksimal, untuk itu pemerintah mengusahakan agar setiap tahun dapat mengelola sekitar 100 ribu hektar lahan pertanian untuk pangan. Hal tersebut dimaksudkan untuk mengganti alih fungsi lahan yang terus terjadi belakangan ini,” kata Mentan saat melakukan panen panen raya padi jenis Inpari 13 di areal seluas 50 hektar di Desa Wolaang, Kecamatan LangowanTimur, Sulawesi Utara pada Kamis (14/6/2012).

Selain penerbitan Perda, Mentan menyarankan agar Pemda segera membangun master plan guna mengembangkan sentra produksi komoditas pangan strategis, mendorong akses petani atau peternak kepada sumber permodalan, meningkatkan konsumsi pangan lokal untuk program diversifikasi pangan serta memberikan dukungan APBD dengan memprioritaskannya pada sektor pertanian.

Dikatakan Mentan, meskipun Sulawesi Utara bukan sentra produksi utama padi, namun berdasarkan data yang ada, dari tahun 2002 – 2011 peningkatan produksi padi di Sulut mencapai 6,25% yaitu dari 346 ribu ton GKG pada tahun 2002 menjadi 596 ribu ton GKG pada tahun 2011.

“Peningkatan produksi ini jauh di atas rata – rata nasional yang hanya 2,78% pada periode yang sama. Untuk itu mewakili Pemerintah Pusat saya menyampaikan selamat dan penghargaan yang setinggi –tingginya kepada pemda, petani, penyuluh dan semua pihak yang telah membantu terwujudnya peningkatan produksi di Sulut ini,” kata Mentan.

Sumber: Biro Umum dan Humas Deptan

Mentan Ajak Masyarakat Manfaatkan Lahan Sekitar Rumah

Sumarni Plus, Jakarta – Menteri Pertanian, Dr. Ir. Suswono MMA kembali menyerukan pentingnya mewujudkan kemandirian pangan dengan memanfaatkan lahan yang tersisa di sekitar rumah.

Hal tersebut disampaikannya pada acara buka puasa bersama yang dihadiri para anggota komisi IV DPR RI, pejabat Eselon I dan II Kementan, Asosiasi Organisasi bidang Pertanian serta wartawan lingkup Kementerian Pertanian di rumah dinas Menteri Pertanian, Jl. Widya Chandra, Jakarta Selatan pada Kamis (2/8/2012)

Menurut Mentan, pembangunan pertanian harus dibangun dengan satu tekad bersama untuk kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, berbagai kendala yang muncul hendaknya dapat diselesaikan dengan melibatkan pihak terkait lainnya. “Banyak yang mengatakan bahwa kita negara agraris, tapi kok masih impor.

Hal ini tentu menjadi keprihatinan kita semua, karena orang berfikiran bahwa negara kita memiliki lahan yang luas, tapi faktanya, kita minta tambahan lahan 500 ribu hektar untuk kedelai dan 350 ribu hektar untuk gula saja sampai kabinet ini setengah jalan , belum juga dikasih,” katanya.

Dijelaskan Mentan, Badan Pertanahan Nasional memang memberikan data tentang potensi lahan terlantar yang mencapai 7,2 juta Hektar. Namun sayangnya, lahan tersebut banyak yang dikuasai dengan HGU sehingga tidak dapat diambil begitu saja karena dilindungi Undang –Undang.

“Sementara untuk lahan di bidang kehutanan, dikatakan ada lahan yang sesuai untuk pertanian dan tinggal tunjuk saja namun pada kenyataannya hingga saat ini ternyata hutan tersebut tidak bisa digunakan,” jelas Mentan.

Untuk itu, sambil menunggu adanya lahan baru yang tersedia, Mentan meminta masyarakat untuk memanfaatkan pekarangan di sekitar rumah dengan menanam sayuran, buah – buahan dan juga memelihara hewan ternak. “Di lahan yang sempit, kita bisa memakai polybag dan menanm cabe, daun bawang hingga kangkung. Termasuk juga memelihara ikan dan kelinci sebagai sumber protein untuk memperkuat ketahanan pangan kita,” katanya.

Sumber: Biro Umum dan Humas Deptan

Alih Fungsi Lahan dan Rusaknya Irigasi Jadi Ancaman Pertanian di Pulau Jawa

Sumarni Plus, Purwakarta - Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan menyebut dua hal yang masih menjadi penghambat pertanian di Pulau Jawa yaitu alih fungsi lahan dan rusaknya irigasi. Padahal selama ini, pembangunan pertanian khususnya peningkatan produksi padi masih terfokus di Pulau Jawa karena lahan di Pulau Jawa pada umumnya lebih subur dibanding di luar Pulau Jawa. "Jaringan irigasinya relatife lebih baik dan organisasinya sudah lebih mapan," jelasnya saat melakukan acara panen padi di Kecamatan Bungursari, Purwakarta beberapa waktu lalu.

Dikatakan Wamentan, rusaknya jaringan irigasi yang telah ada dan kurangnya pembangunan waduk dan jaringan irigasi yang baru menyebabkan menurunnya daya dukung infrastruktur terhadap peningkatan produksi dan produktivitas pertanian di Pulau Jawa.

Untuk itu, diperlukan rencana aksi yaitu meningkatkan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memperbaiki waduk, jaringan irigasi dan pemanfaatan air tanah dan air permukaan melalui pompanisasi serta melakukan koordinasi dengan pemda untuk membangun dan merehabilitasi jalan usaha tani dan jalan produksi.

Sementara itu, terkait dengan alih fungsi lahan, Wamentan mengatakan hingga saat ini Pulau Jawa mengalami penyusutan lahan yang cukup tinggi. "Alih fungsi ini ancaman yang sangat serius bagi keberlangsungan sektor pertanian. Salah satu provinsi yang alih fungsi lahan pertaniannya cukup tinggi yaitu Jawa Barat yang mencapai 3000 hektare per tahun. Padahal pemerintah sudah mengeluarkan regulasi untuk mengatasi persoalan itu. Akan tetapi pada kenyataannya payung hukum tersebut, belum mampu membendung arus alih fungsi," katanya.

Lebih lanjut dikatakan Wamentan, saat ini tren alih fungsi mengalami perubahan. Jika dulu lahan sawah diubah fungsinya menjadi pemukiman atau lahan industri, saat ini berubah menjadi fasilitas khusus dan fasilitas umum serta area perkebunan. Seperti yang terjadi di Banten dan Sumedang, dimana lahan sawah berubah menjadi perkebunan sawit.

Menurut Wamentan, seharusnya lahan itu tetap dipertahankan sebagaimana fungsinya. Pulau Jawa, berdasarkan acuannya, lahan sawahnya harus dilindungi dan tidak boleh beralih fungsi lagi. Hal ini dilakukan untuk mendukung ketersediaan bahan pangan terutama beras secara nasional apalagi Kementerian Pertanian telah menargetkan bahwa pada 2014 mendatang, Indonesia harus surplus beras 10 juta ton. "2014 mendatang, Indonesia harus surplus beras 10 juta ton. Untuk itu jika tidak didukung oleh semua pihak, beban ini sangat berat," ujarnya.

Untuk itu, secara khusus Wamentan meminta supaya setiap kepala daerah berkomitmen untuk mempertahankan sawah pertanian, termasuk Purwakarta, meskipun luasan sawahnya sedikit namun harus tetap dilindungi. Bila perlu, petani yang bisa mempertahankan sawahnya diberi insentif.

Sumber: Biro Umum dan Humas Deptan

Indonesia Siap Pasok Sayur ke Singapura

Sumarni Plus, BINTAN - Singapura menantang Indonesia menyediakan pasokan buah dan sayur di negaranya. Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau berkomitmen menyuplai secara kontinue pasokan sayur ke negara tetangga itu. Nota kesepahaman perdagangan itu ditandangani, Ahad (6/5) disaksikan oleh menteri pertanian Suswono di Bintan.

Menteri Pertanian Suwono mengatakan, Bintan memiliki potensi bagus untuk pengembangan sayur. ”Selain lahannya cocok, potensi pasar produksi sayur dan buah terbuka lebar karena berdekatan dengan Singapura. Sudah dilakukan penandatanganan MoU bupati dengan investor, nanti akan ditindaklanjuti," ujar Suswono. Menurut dia, Indonesia sangat berpotensi masuk ke pasar Singapura.

Dilihat dari segi kualitas, sayuran Indonesia tak kalah dari sayuran asal Cina dan Thailand yang juga banyak masuk ke negeri singa itu. "Dari segi transportasi, kita bisa karena Bintan yang paling dekat jadi bisa kompetitif," kata politisi PKS ini.

Dijelaskannya, kebutuhan produk pertanian seperti sayur dan buah di Singapura terus meningkat. Apalagi tahun 2013, negara ini memerlukan 30 persen kebutuhan sayur dan buah dari Indonesia. Selama ini, Indonesia mengeskpor sekitar 10 persen sayuran ke pasar Singapura. Namun, beberapa tahun terakhir ekspor Indonesia cenderung menurun menjadi enam persen saja. Pada tahun 2014, Indonesia menargetkan bisa mengisi 30 persen pasar sayur dan buah di Singapura.

Suswono mengungkapkan perlu adanya standardisasi yang disepakati antara penyedia sayuran dan permintaan pasar agar bisa terjadi kontinuitas pasokan. "Agar di tengah jalan tidak ada eskpor yang dihentikan," kata dia. Indonesia sempat mengalami penghentian ekspor dari Singapura.

Suwono menambahkan, pihaknya telah menjembatani investasi di bidang pertanian dengan pemerintah Kabupaten Bintan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB). Mereka telah melakukan penelitian di Bintan untuk menentukan lokasi lahan yang cocok untuk tanaman sayur dan buah.

Bupati Bintan, Ansar Ahmad mengatakan, ada investor asal Singapura yang berminat sayur dari Bintan. Namun, Pemkab masih mempelajari MoU dengan investor. Ansar berharap, investasi yang terjalin bukan sekedar untuk ekspor saja karena dikawatirkan akan terputus. ”Harus ada ikatan agar investasi terus berjalan,” katanya.

Dalam kunjungan Suwono ke Eco Farm PT BRC Lagoi, disambut Direktur PT BRC, Frans Gunara dan ketua Asosisasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bintan, Jamin Hidajat. Terkait keberadaan Eco Farm, Frans mengatakan, kebun pertanian di kawasan Bintan Resort ini mendukung Eco Tourism. Turis yang datang ke Lagoi tidak hanya menikmati keindahan pantai, tapi juga melihat kegiatan pertanian. Sumber

Sumber Berita : Tim Media Deptan

Indonesia Hijau dan Lestari Bersama Hortikultura

Sumarni Plus, MEDAN -- Menteri Pertanian Suswono menyambut baik dan mengapresiasi pelaksanaan Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) 2012, yang dilaksanakan di Kota Medan pada tanggal 20 – 24 Juni 2012. PF2N tahun ini menurutnya begitu istimewa karena diselenggarakan bersamaan dengan momentum Visit Medan Year 2012 serta dalam rangkaian acara Ulang Tahun Kota Medan ke- 422. Karena itu, Suswono berharap PF2N 2012 dapat menjadi ajang promosi nasional yang bertaraf internasional untuk mempromosikan aneka produk hortikultura dan potensi hortikultura nasional, serta perkembangan teknologi kepada masyarakat umum.

“Melalui PF2N 2012 ini, saya berharap hortikultura Indonesia dapat berperan mendukung terwujudnya sasaran Indonesia sehat 2020 dan berperan dalam pertumbuhan “green economy” serta ikut aktif menjadikan Indonesia hijau dan lingkungan yang lestari”, tambahnya.

Lebih lanjut, Suswono menjelaskan bahwa beberapa dekade terakhir, produksi hortikultura nusantara telah meningkat sebagai dampak positif dari aktivitas para pelaku usaha hortikultura yang sudah menerapkan budidaya yang baik dan pascapanen yang baik pula. Kementerian Pertanian pun tidak henti-hentinya mengawal upaya pemberdayaan kelembagaan petani, penguatan kemitraan usaha yang saling menguntungkan, dukungan teknologi dan informasi hingga ke pembangunan infrastruktur hortikultura yang dapat meningkatkan produktivitas dan mutu produk, baik untuk konsumsi domestik maupun untuk substitusi impor dan penguatan ekspor.

Selanjutnya, Mentan menegaskan bahwa peningkatan daya saing produk hortikultura nusantara adalah sudah menjadi keharusan. “Salah satu tantangan kita adalah bagaimana menekan impor dan sekaligus juga meningktkan ekspor. Selain itu juga perlu ada pembenahan dalam hal produksi selain berupaya keras membenahi sisi logistik, menjamin distribusi buah-buahan ke pasar dengan biaya transport dan handling terjangkau, serta sistem perdagangan yang kondusif, yang berpihak kepada petani agar petani lebih bersemangat untuk menghasilkan produk bermutu prima”, Tegas Suswono.

Sementara itu, Pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho dalam sambutannya mengatakan, dipilihnya Sumatera Utara khususnya Kota Medan sebagai tuan rumah PF2N 2012 adalah sebuah kehormatan mengingat even ini bertaraf nasional. Apalagi lanjut dia, PF2N merupakan ajang promosi hortikultura Indonesia. Sumatera Utara sendiri telah lama dikenal sebagai salah satu daerah sentra hortikultura di Indonesia. Bahkan produk hortikultura Sumatera Utara seperti buah-buahan dan sayuran, tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri tapi juga mampu memenuhi pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, dan Ukraina.

Sedangkan Hasanuddin Ibrahim, Dirjen Hortikultura sekaligus ketua pelaksana PF2N 2012 melaporkan bahwa PF2N 2012 ini adalah pelaksanaan kelima yang sebelumnya diselenggarakan di kota Tomohon, Batam, Tangerang, dan Denpasar. Untuk pelaksanaan PF2N 2013 akan diselenggarakan di kota Jogjakarta. Kegiatan PF2N 2012 tidak hanya memamerkan produk hortikultura, kegiatan pendukung seperti pameran dan bursa hortikultura, jambore varietas sayur dan buah-buahan, aneka lomba dan kursus terkait produk hortikultura, workshop dan seminar agribisnis working group antara Indonesia dengan Singapura, parade mobil hias, pelepasan ekspor buah-buhan dan sayur ke Singapura, kontak bisnis antar pelaku usaha dari berbagai daerah dan luar negeri, agrowisata ke tanah Simalem yang mengembangkan produk hortikultura organik, serta berbagai hiburan rakyat.

Peserta aktif pameran PF2N 2012 terdiri dari pelaku usaha dan produsen hortikultura, pengusaha benih, pupuk, dan pestisida, serta sarana prasarana perbenihan, penyedia jasa hortikultura, instansi pemerintah dari mulai tingkat pusat, propinsi, kabupaten dan kota, termasuk juga lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Jumlah stand yang disediakan panita berjumlah 108. Diharapkan selama pelaksanaan PF2N 2012 yang akan ditutup pada tanggal 24 Juni 2012, akan dihadiri 50 ribu pengunjung.

Dalam kunjungannya, Suswono didampingi oleh Walikota Medan, Rahudman Harahap, Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara, HM Roem, Pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho. Turut dalam rombongan, antara lain Wakil Gubernur DIY, Pakualaman IX, Dirjen Hortikultura, Hasanuddin Ibrahim, Staf Khusus Menteri Bidang Efesiensi Pembangunan Pertanian dan Hasim Danuri, dan Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriwan.

Pada kesempatan itu juga, Suswono mengajak seluruh stakeholder hortikultura dapat meningkatkan kerjasama dan keterpaduan antar petani, gapoktan, swasta, masyarakat dan pelaku usaha lainnya secara bersama-sama untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan PF2N 2012, yaitu mewujudkan “Hortikultura Inovatif dan Kreatif Menuju Hidup Sehat dalam Lingkungan Lestari”.

Di akhir pembukaan PF2N 2012, sejumlah Gapoktan melakukan penandatanganan MOU dengan Asosiasi Ekspor Sayur Buah Indonesia (AESBI) yang akan mengekspor lobak dan pisang ke Singapura.

Sumber Berita : Tim Media Departemen Pertanian
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sumarni Plus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger